Keresahan Awal Perubahan.
Sebelumnya saya sampaikan bahwa,
ini adalah tulisan pertama saya di blog ini. Walau sebelumnya saya sudah punya
blog dan sudah sempat menulis beberapa paragraf, kali ini saya kembali belajar
menggunakan blog dan belajar lagi menyusun kalimat dengan gaya bahasa sendiri
yang masih banyak salah dalam penyusunan tata bahasanya. Harap dimaklumi :D
Seakan bangun dari hibernasi
yang cukup lama, saya kembali memulai ini dengan Bismillah. Terimakasih buat
senior hebat kak Wahyu Repi/Wahyu_Presiden yang sudah menggelorakan kembali
semangat saya yang sempat padam. Selamat buat terbitnya buku pertama yang
berjudul Catatan
Kehidupan. Salam pena, salam sukses.
Selamat menikmati diksi
sederhana ini!
Coba dibawa santai aja.
Teringat kutipan terakhir di
serial film Dono “Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang” setelah muncul
tulisan yang membuat datar roman wajah penontonnya, yakni tulisan TAMAT.
Yang lahir dibawah tahun 2000-an pada nyengir tuh. Teringat masa-masa SD kalau
nonton bukan cuman serumah, tapi sekomplek. Modelnya kayak nonton di bioskop
tapi tradisonal. Waduh.. gimana tuh bioskop tradisional? Itu.. nonton film pake
TV jadul 14 inci dengan jumlah penonton sekomplek. Bioskop tradisional versi
saya ya.. :D
Kami yang tinggal di Desa
pernah menikmati kebersamaan macam itu. kehidupan sosial yamg dipenuhi dengan kesejukkan dan keceriaan bersama. sekarang
pertanyaannya mengapa ada istilah film Dono? Padahal kan pemerannya bukan cuma
Dono. Ada Kasino dan Indro juga, seharusnya Warkop DKI dong. Itulah figuritas.
Karakter Dono itu sangat kental sehingga masyarakat sering menyebutnya film
Dono. Hehehe.. kira-kira seperti itu ^_^
Pengantarnya terlalu panjang...
saatnya kita kembali ke topik.
Nostalgia bulan desember.
Momentum dimana harkat dan derajat mahasiswa menjadi penuh Tanya. Akankah
datang purnama dengan taburan bunga-bunga yang bertuliskan IP-mu 3 koma. Atau
tragis menerima kenyataan IP semester ini 1 koma. Lagi-lagi Tanya ini menjadi
semacam tamparan atau pukulan jep-jep dalam istilah tinju.
Bulan desember adalah pertanda
berakhirnya semester ganjil di beberapa kampus di Sulawesi Utara. Termasuk
kampus saya. Bagai misteri yang harus dipecahkan atau anak kecil yang gemar
main tebak-tebakan kala datangnya bulan ini. Ini adalah masa dimana mahasiswa
dilematis tingkat tinggi. Akankah bahagia dengan datangnya libur panjang atau
menangis batinnya karena di omel dalam kurun waktu yang cukup panjang.
Padahal sebetulnya gundah ini
takkan terasa bila menikmati proses dan bersungguh-sungguh dalam berproses.
Karena pada hakekatnya apa yang kita tabur, maka itu pula yang akan kita tuai.
Sintesis takkan lepas dari tesis dan antithesis (model dialektika Hegel).
Setidaknya ada beberapa kriteria
mahasiswa yang menjadi catatan saya selama berkutat dalam dunia kampus. Adapun
parameternya berdasarkan pada apa yang saya lihat dan apa yang saya rasakan di
sekeliling saya.
Kriteria mahasiswa yang pertama, adalah
mahasiswa kupu-kupu. Kupu-kupu adalah singkatan dari “kampus pulang-kampus
pulang”. Mahasiswa yang seperti ini punya aktivitas rutin yang sama hampir
disetiap hari-hari yang ia lalui. Pagi masuk kampus, sorenya pulang kos, kalau
libur langsung pulang kampung.
Kriteria mahasiswa yang pertama
ini relatif mempunyai prestasi akademik standar dengan tingkat pergaulan
rendah. Contoh konkritnya adalah dalam kesehariannya karena tidak diisi dengan
rutinitas positiv diluar aktivitas perkuliahan, dia pun berkawan hanya dengan
beberapa orang teman sekelas dan beberapa teman kos.
Dalam konteks aktivitas
mahasiswa, kriteria mahasiswa seperti ini hanya terfokus pada bidang akademik
yang sedang ia geluti tanpa menaruh perhatian pada hal-hal yang sifatnya
kompleksitas. Karena menurutnya kesibukan diluar aktivitas perkualiahan itu
hanyalah menambah-nambah kesibukan dan mengorbankan waktu istirahatnya saja.
Paradigma berfikir untuk
kriteria mahasiswa yang pertama ini adalah hanya berorientasi pada bagaimana
membangun diri sendiri dan bagaimana mensukseskan diri sendiri atau sering
disebut dengan sifat apatis terhadap lingkungan sosial.
Kriteria mahasiswa yang kedua, adalah
mahasiswa aktivis realistis. Untuk kriteria yang kedua ini saya mengajak
terlebih dahulu menyatukan persepsi apa itu aktivis dan apa itu realistis. Apa
sebab saya mengajak demikian, tujuannya adalah agar kita lebih berani untuk
mengemukakan bahwa apa sebenarnya arti aktivis dan apa itu realistis. Karena
kebanyakan diantara kalangan aktivis sendiri masih malu-malu untuk menyebut
bahwa dirinya adalah aktivis. Mungkin karena sifat rendah hati yang melekat
pada dirinya.
Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI), aktivis adalah orang (terutama anggota organisasi politik,
sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, wanita) yang bekerja aktif mendorong
pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan dalam organisasinya. Sedangkan
realistis adalah bersifat nyata (real) atau bersifat wajar.
Maka dapat disimpulkan bahwa
mahasiswa aktivis realistis adalah mahasiswa yang aktif dalam berbagai kegiatan
ke-organisasian tanpa melupakan jati dirinya sebagai mahasiswa. Dimana ia
dikatan sebagai aktivis dan tergabung dalam sebuah organisasi kemahasiswaan
karena, terlebih dahulu dirinya terdaftar sebagai peserta didik dalam sebuah
Universitas, sehingga ia berhak disematkan sebuah nama besar yang disebut
sebagai mahasiswa.
Pada kenyataannya kriteria
mahasiswa yang kedua ini adalah mahasiswa dengan segudang prestasi. Rajin masuk
kampus, rajin buat tugas, aktif diskusi, aktif organisasi, ikut rapat, ikut berbagai macam ajang perlombaan, jarang
pulang kampung, memenej waktu, membuat peta hidup, dan punya visi dan misi
kehidupan. Setiap hari dengan rutinitas yang berbeda-beda karena banyak di isi
dengan berbagai agenda di luar aktivitas perkuliahan.
Kriteria mahasiswa yang kedua ini
adalah calon pemimpin masa depan. Belajar bagaimana membangun suasana yang
harmonis antar sesama manusia secara horizontal (Hablumminannas) dan belajar
mengokohkan pondasi untuk menjadi insan kamil. Yakni menjadi manusia yang
paripurna dengan menjaga hubungan secara vertikal (Hablumminallah). Singkatnya, kriteria mahasiswa
yang kedua ini adalah mahasiswa yang cerdas secara spiritual, cerdas secara
intelektual, dan cerdas secara emosional.
Kriteria mahasiswa yang ketiga, adalah
mahasiswa idealis tingkat tinggi. Mahasiswa dengan kriteria ketiga ini tidak
sampai pada strata realistis. Apa sebab demikian? Hal ini disebabkan oleh
fantasi dan orientasi paradigma berfikir yang sedikit mengesampingkan kenyataan
yang ada bahwa sebetulnya menjadi mahasiswa hanyalah sarana untuk mencapai
tujuan pada babak-babak berikut yang sedang menunggu.
Prestasi akademik bukan lagi
menjadi hal yang diutamakan. Sementara ekspektasi orang tua adalah amanah yang
harus dipertanggung jawabkan. Ada harapan yang besar disana. Ada kebanggaan
tersendiri yang sedang menanti. Sang buah hati yang sedang meniti jalan
perbaikan diri.
Idealis tingkat tinggi adalah
makna yang ambigu. Tidak serta merta hanya melekat pada yang kelihatannya saja.
Tetapi pada semua yang betah menempati zona nyaman yang kian paradoks.
Ketika prestasi akademik tidak
seimbang dengan gerak idealisme, maka yang ada hanyalah serpihan-serpihan nilai
yang kalau disaring hanya menyisakan 1 koma. 1 koma yang menghiasi dinding
portal akademik. 1 koma kian bertambah pada semester-semester berikut yang kian
menampakkan koleksi heterogen pada ekor angka dibelakang koma.
Akhirnya, keluarlah dari zona 1 koma. komparasikan idealisme dengan realisme. masa depan menunggu dengan realitas yang kompleks.
Bukan tentang nilai.
Tapi tentang motivasi dan intuisi
Manado, 23 Desember
2016