Jumat, 30 Desember 2016

PENIKMAT BAPER


Oleh: @ikyningalo

Lagi-lagi malam kujejaki dengan keriangan dalam diam.
Kureguk kopi dan sejenak diam terpaku.
Buku yang menggugah selera di atas meja tak kunjung kugagahi.
Ya.. buku itu yang awalnya menggoda.
Kubiarkan sejenak dalam imajinasi semacam energi mistis menari-nari.
Ada apa ini?
Dalam dada bergumam.
Seakan terhipnotis dengan euphoria gairah membelai lembaran-lembaran aksara.
Kuayunkan tangan sambil berjuang meraih buku.
Kuseruput kentalnya kafein dengan nikmat.
Bisa jadi untaian aksara itu tlah bosan menunggu.
Lagi dan lagi gumam membuatku gundah.
Seakan tak ingin sakit dan resah, aku merasa tak ingin jomblo lebih lama lagi.

#TidakUntukBAPER

Rabu, 28 Desember 2016

ILUSI TRANSISI?



Keresahan awal dari perubahan
 
Langsung saja kawan, tanpa pembuka Panjang-Lebar. Karena sesungguhnya panjang dan lebar hanya akan menghasilkan LUAS dalam perhitungan luas pada ilmu matematika  ^_^

Seperti halnya perjalanan lainnya, selalu saja ada tanya dalam menjalani sebuah proses. Kira-kira dalam setiap dinamika beberapa pertanyaan ini muncul pada benak yang gundah gulana.

Mereka takut..? Ya.. mereka takut..! Mereka resah..? ya.. perasaan yang sama..!

Namun, betapapun itu sebuah kesakitan, tetaplah bertahan kawan. Tendensi dari transisi ini hanyalah euphoria dari sebuah kemajuan. Bersabarlah kawan, jangan tergesa-gesa atau menjadi penganut paranoid dalam menyikapi keadaan ini. 

Sikapi ini dengan dewasa kawan, sesungguhnya ini adalah proses dan akan dikenang menjadi sebuah sejarah.

Bukankah engkau sudah begitu banyak belajar dari sejarah yang telah digariskan oleh para pendahulu tentang bagaimana berjuang dan bangkit dari keterpurukan? Tidakkah engkau mengerti dari buku-buku yang menghiasi isi kepalamu bahwa, setiap masa selalu ada yang namanya fluktuasi dalam setiap roda peradaban?

Bersabarlah kawan!!! ^_^
Setiap masa selalu ada aktor, dan setiap aktor yang melakoni perannya selalu punya cara sendiri dalam mengekspresikan jalannya sebuah cerita.

Bersabarlah kawan!!!
Sesungguhnya ini hanyalah sebuah proses. Tidak perlu begitu idealis hingga kau banyak protes. Tidakkah kau berpikir kawan, dengan cacian dan makian itu sungguh menyakitkan?

Bersabarlah kawan!!!
Jangan biarkan mereka yang ada disampingmu, berdiri ber-shaf-shaf denganmu., menjadi jauh atau lenyap dari tatapanmu oleh hanya karena egosentrismu atau egosentris ideologimu yang lemah akan intuisi.

Jadilah kuat kawan!!!
Lindungi mereka yang butuh perhatianmu. Lapangkanlah rasa cinta di dadamu. Karena itu yang dibutuhkan. Yaitu sebuah kebijakan yang menghangatkan.

Ingatlah kawan!!!
Masa transisi hanya akan berimplikasi pada 2 hal, yakni melanjutkan perjuangan, atau berhenti dan mati dalam gilasan karena keegoisan.

Sadarlah kawan!!!
Mereka bukan patung atau pohon mati yang ditunggangi benalu sehingga mereka terlihat kaku. Mereka juga termasuk barisan para pemikir yang sudah berjuang mencari cara bagaimana menumbuhkan rasa. Rasa yang dulu ada namun hilang ditelan masa.

Sungguh, ini bukanlah salah mereka kawan. Tahukan engkau kawan, selalu ada yang namanya hukum kausalitas (sebab-akibat).

Tidakkah engkau mengevaluasi apa yang salah kemarin sehingga berimplikasi pada hari ini?

Sadarkah engkau kawan bahwa ini hanyalah klimaks dari sejarah kemarin yang sudah kita lalui?

Sudahkah kau mengkajinya kawan?

Sudahkah engkau tanyakan kepada mereka, apa yang mereka rasakan?

Sudahkah kau menyudahi kesimpulanmu yang literal itu?

Sudahkah engkau menyadari dirimu yang hanya menjadi penonton dan berkomentar pedas ketika sang aktor memainkan peran yang tidak kau mengerti apa makna di dibalik cerita yang sedang ia perankan? Kau memang tidak mau tau apa yang sudah mereka perbuat! Sungguh kau hanya ingin tau kesalahan yang mereka lakukan. Kau lupa bahwa mereka hanyalah kumpulan hamba selayaknya manusia biasa yang tak pernah luput dari salah dan dosa.

Mencari-cari kesalahan yang mereka perbuat, kemudian memperbesar-besarkannya biar seisi alam ini tau hanya dosa yang ada di wajah mereka, dan surga yang katanya ada di wajahmu. Sadarlah kawan, marilah sama-sama sadar!

Tenaglah kawan, kemarin barulah awal dari akan begitu banyak langkah kedepan. Bersyukurlah kawan, mereka yang kau ragukan masih bertahan ditengah rasa sakit yang begitu memilukan. Karena kau tau kawan, apa yang membuat mereka tegar bertahan? Mereka sadar bahwa sesungguhnya perjuangan ini bukan untuk individu yang pandai memuntahkan keegoisan, melainkan untuk kebersamaan dalam meraih kemenangan, bangkit dari keterpurukan!!

Maafkan kami kawan. Sedari awal sudah mengecewakanmu. Maafkan kami kawan, kami melakonkan tidak sesuai dengan apa yang kau ekspektasikan. Bimbinglah kami kawan. Kiranya kau dapat membimbing kami yang lemah ini kawan.

Jangan caci kami, jangan hina kami, jangan kecilkan semangat kami yang di dalamnya masih ada walau hanya sebesar biji zarrah. Jangan buang kami kawan, jangan biarkan kami angkat kaki dari jalan panjang yang sudah kami lalui ini.

Akhirnya, beribu maaf untukmu kawan. Tolong jangan biarkan kami menjadi pemenang melarikan diri dari kenyataan, namun giring kami menjadi pemenang dari orang-orang yang hobinya lari dari kenyataan.

Untukmu kawan, kau hanyalah bayang-bayang semu ^_^
 
Edisi revisi, 27 desember 2016.
Sebelumnya sudah pernah di posting pada fb : Rhama Rizky Ningalo, dengan gaya bahasa yang sedikit berbeda. 

Sumber Gambar :

http://global.liputan6.com/read/2181257/7-ilusi-optik-manipulasi-foto-yang-bisa-kacaukan-pikiran
 

Jumat, 23 Desember 2016

MERENUNGKAN NASAKOM "Nasib Satu Koma"


Keresahan Awal Perubahan.

Sebelumnya saya sampaikan bahwa, ini adalah tulisan pertama saya di blog ini. Walau sebelumnya saya sudah punya blog dan sudah sempat menulis beberapa paragraf, kali ini saya kembali belajar menggunakan blog dan belajar lagi menyusun kalimat dengan gaya bahasa sendiri yang masih banyak salah dalam penyusunan tata bahasanya. Harap dimaklumi :D

Seakan bangun dari hibernasi yang cukup lama, saya kembali memulai ini dengan Bismillah. Terimakasih buat senior hebat kak Wahyu Repi/Wahyu_Presiden yang sudah menggelorakan kembali semangat saya yang sempat padam. Selamat buat terbitnya buku pertama yang berjudul Catatan Kehidupan. Salam pena, salam sukses.

Selamat menikmati diksi sederhana ini!
Coba dibawa santai aja.

Teringat kutipan terakhir di serial film Dono “Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang” setelah muncul tulisan yang membuat datar roman wajah penontonnya, yakni tulisan TAMAT. Yang lahir dibawah tahun 2000-an pada nyengir tuh. Teringat masa-masa SD kalau nonton bukan cuman serumah, tapi sekomplek. Modelnya kayak nonton di bioskop tapi tradisonal. Waduh.. gimana tuh bioskop tradisional? Itu.. nonton film pake TV jadul 14 inci dengan jumlah penonton sekomplek. Bioskop tradisional versi saya ya.. :D

Kami yang tinggal di Desa pernah menikmati kebersamaan macam itu. kehidupan sosial yamg dipenuhi dengan kesejukkan dan keceriaan bersama. sekarang pertanyaannya mengapa ada istilah film Dono? Padahal kan pemerannya bukan cuma Dono. Ada Kasino dan Indro juga, seharusnya Warkop DKI dong. Itulah figuritas. Karakter Dono itu sangat kental sehingga masyarakat sering menyebutnya film Dono. Hehehe.. kira-kira seperti itu ^_^

Pengantarnya terlalu panjang... saatnya kita kembali ke topik.
Nostalgia bulan desember. Momentum dimana harkat dan derajat mahasiswa menjadi penuh Tanya. Akankah datang purnama dengan taburan bunga-bunga yang bertuliskan IP-mu 3 koma. Atau tragis menerima kenyataan IP semester ini 1 koma. Lagi-lagi Tanya ini menjadi semacam tamparan atau pukulan jep-jep dalam istilah tinju.

Bulan desember adalah pertanda berakhirnya semester ganjil di beberapa kampus di Sulawesi Utara. Termasuk kampus saya. Bagai misteri yang harus dipecahkan atau anak kecil yang gemar main tebak-tebakan kala datangnya bulan ini. Ini adalah masa dimana mahasiswa dilematis tingkat tinggi. Akankah bahagia dengan datangnya libur panjang atau menangis batinnya karena di omel dalam kurun waktu yang cukup panjang.

Padahal sebetulnya gundah ini takkan terasa bila menikmati proses dan bersungguh-sungguh dalam berproses. Karena pada hakekatnya apa yang kita tabur, maka itu pula yang akan kita tuai. Sintesis takkan lepas dari tesis dan antithesis (model dialektika Hegel).

Setidaknya ada beberapa kriteria mahasiswa yang menjadi catatan saya selama berkutat dalam dunia kampus. Adapun parameternya berdasarkan pada apa yang saya lihat dan apa yang saya rasakan di sekeliling saya.

Kriteria mahasiswa yang pertama, adalah mahasiswa kupu-kupu. Kupu-kupu adalah singkatan dari “kampus pulang-kampus pulang”. Mahasiswa yang seperti ini punya aktivitas rutin yang sama hampir disetiap hari-hari yang ia lalui. Pagi masuk kampus, sorenya pulang kos, kalau libur langsung pulang kampung.

Kriteria mahasiswa yang pertama ini relatif mempunyai prestasi akademik standar dengan tingkat pergaulan rendah. Contoh konkritnya adalah dalam kesehariannya karena tidak diisi dengan rutinitas positiv diluar aktivitas perkuliahan, dia pun berkawan hanya dengan beberapa orang teman sekelas dan beberapa teman kos.

Dalam konteks aktivitas mahasiswa, kriteria mahasiswa seperti ini hanya terfokus pada bidang akademik yang sedang ia geluti tanpa menaruh perhatian pada hal-hal yang sifatnya kompleksitas. Karena menurutnya kesibukan diluar aktivitas perkualiahan itu hanyalah menambah-nambah kesibukan dan mengorbankan waktu istirahatnya saja.

Paradigma berfikir untuk kriteria mahasiswa yang pertama ini adalah hanya berorientasi pada bagaimana membangun diri sendiri dan bagaimana mensukseskan diri sendiri atau sering disebut dengan sifat apatis terhadap lingkungan sosial.

Kriteria mahasiswa yang kedua, adalah mahasiswa aktivis realistis. Untuk kriteria yang kedua ini saya mengajak terlebih dahulu menyatukan persepsi apa itu aktivis dan apa itu realistis. Apa sebab saya mengajak demikian, tujuannya adalah agar kita lebih berani untuk mengemukakan bahwa apa sebenarnya arti aktivis dan apa itu realistis. Karena kebanyakan diantara kalangan aktivis sendiri masih malu-malu untuk menyebut bahwa dirinya adalah aktivis. Mungkin karena sifat rendah hati yang melekat pada dirinya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), aktivis adalah orang (terutama anggota organisasi politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, wanita) yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan dalam organisasinya. Sedangkan realistis adalah bersifat nyata (real) atau bersifat wajar.

Maka dapat disimpulkan bahwa mahasiswa aktivis realistis adalah mahasiswa yang aktif dalam berbagai kegiatan ke-organisasian tanpa melupakan jati dirinya sebagai mahasiswa. Dimana ia dikatan sebagai aktivis dan tergabung dalam sebuah organisasi kemahasiswaan karena, terlebih dahulu dirinya terdaftar sebagai peserta didik dalam sebuah Universitas, sehingga ia berhak disematkan sebuah nama besar yang disebut sebagai mahasiswa.

Pada kenyataannya kriteria mahasiswa yang kedua ini adalah mahasiswa dengan segudang prestasi. Rajin masuk kampus, rajin buat tugas, aktif diskusi, aktif organisasi, ikut rapat, ikut berbagai macam ajang perlombaan, jarang pulang kampung, memenej waktu, membuat peta hidup, dan punya visi dan misi kehidupan. Setiap hari dengan rutinitas yang berbeda-beda karena banyak di isi dengan berbagai agenda di luar aktivitas perkuliahan.

Kriteria mahasiswa yang kedua ini adalah calon pemimpin masa depan. Belajar bagaimana membangun suasana yang harmonis antar sesama manusia secara horizontal (Hablumminannas) dan belajar mengokohkan pondasi untuk menjadi insan kamil. Yakni menjadi manusia yang paripurna dengan menjaga hubungan secara vertikal (Hablumminallah). Singkatnya, kriteria mahasiswa yang kedua ini adalah mahasiswa yang cerdas secara spiritual, cerdas secara intelektual, dan cerdas secara emosional. 

Kriteria mahasiswa yang ketiga, adalah mahasiswa idealis tingkat tinggi. Mahasiswa dengan kriteria ketiga ini tidak sampai pada strata realistis. Apa sebab demikian? Hal ini disebabkan oleh fantasi dan orientasi paradigma berfikir yang sedikit mengesampingkan kenyataan yang ada bahwa sebetulnya menjadi mahasiswa hanyalah sarana untuk mencapai tujuan pada babak-babak berikut yang sedang menunggu.

Prestasi akademik bukan lagi menjadi hal yang diutamakan. Sementara ekspektasi orang tua adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan. Ada harapan yang besar disana. Ada kebanggaan tersendiri yang sedang menanti. Sang buah hati yang sedang meniti jalan perbaikan diri.

Idealis tingkat tinggi adalah makna yang ambigu. Tidak serta merta hanya melekat pada yang kelihatannya saja. Tetapi pada semua yang betah menempati zona nyaman yang kian paradoks.

Ketika prestasi akademik tidak seimbang dengan gerak idealisme, maka yang ada hanyalah serpihan-serpihan nilai yang kalau disaring hanya menyisakan 1 koma. 1 koma yang menghiasi dinding portal akademik. 1 koma kian bertambah pada semester-semester berikut yang kian menampakkan koleksi heterogen pada ekor angka dibelakang koma.

Akhirnya, keluarlah dari zona 1 koma. komparasikan idealisme dengan realisme. masa depan menunggu dengan realitas yang kompleks.

Bukan tentang nilai. Tapi tentang motivasi dan intuisi
Manado, 23 Desember 2016