Dalam
hening ketika alam pikir sudah merasakan keadaan dimana terlepas dari hiruk
pikuk dunia yang senantiasa menuntut teratasi, akankah kita berani untuk
sekedar mengemukakan sebuah pertanyaan atau beberapa pertanyaan yang kira-kira
seperti ini : Akankah saya pantas untuk berkutat dengan serangkaian episode
kedepan dengan tidak memantaskan diri? Sudahkah saya membahagiakan orang-orang
di sekitar (orang tua dan sanak saudara)? Atau.. yang sedikit dramatis.. sudahkan saya
pantas mengakhiri kesendirian ini?
Sekilas
pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin terkesan mudah dijawab. Tapi dengan
realitas yang ada, pertanyaan-pertanyaan seperti ini kebanyakan dijawab simpel dengan mengaktualisasikannya dalam bentuk bunga tidur (alias mimpi) dan bergegas menuju alam bawah sadar.
Tidakkah
kita merasa ada yang ganjil?
Banyak
dari kalangan kaum muda dengan gaya masa kini (hedon), yang cenderung mengaplikasikannya dengan banyak bersantai
ria, atau sekedar meregangkan otot yang lelah setelah seharian menjejaki
etalase kapitalis, dengan ber-pura-pura
memejamkan mata hingga kemudian hilang ditutupi ngorok yang berirama merdu (di
atas pulau kapuk).
Bukankah
kaum muda yang apabila ditelaah jauh kebelakang dengan jejak historisnya yang
mengangkasa, selalu muncul sebagai pelopor untuk mengobarkan semangat
perjuangan, yang mencirikan pemuda sebagai pilar pengubah keresahan menjadi
awal dari sebuah perubahan?
Sejauh
mana kita meninjau fenomena ini, mari kita “introspeksi diri”, mari kita
ulas, mari kita kritisi, dan mari kita dekonstruksi hingga ke bagian terdalam
yang paling radikal. Dalam hal ini, kita renungi dan timbang kembali sejauh
mana kita mengklaim diri kita sebagai pemuda, yang sebetulnya tidak bisa hanya
dibuktikan dengan kacamata biologis, melainkan juga dari sudut pandang
psikologis sebagai sebuah komparasi dialogis.
Sejarah
telah banyak memberikan bukti-bukti otentik tentang bagaimana ruh pemuda
sebagai agent of change menjadi
katalisator dan memberikan banyak pengaruh positif terhadap masyarakat dan
peradaban. Namun, torehan prestasi intelek muda dibuktikan tidak hanya di ranah
kancah nasional Indonesia saja, melainkan juga di kancah Internasional.
Kita
bisa melihat bagaimana perjuangan tanpa batas pra-kemerdekaan perlawanan
terhadap dominasi kolonisasi bangsa asing, oleh Budi Oetomo yang digagas
tokoh-tokoh sentral seperti dr. Sutomo dan dr. Wahidin Sudirohusodo, serta Guru
Bangsa HOS Tjokroaminoto, yang merupakan pendiri Sarekat Islam, adalah para
pemuda pada zamannya. Mereka adalah konseptor sekaligus sebagai aktor dalam
sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Kita juga bisa melihat sang proklamator
kemerdekaan RI, Bung Karno dan Bung Hatta sudah menjadi pemimpin Negara pada
usia muda.
Bahkan
pada usia yang begitu muda yakni umur antara 21 atau 22 tahun Sultan Mehmed II atau
juga di kenal sebagai Sultan Muhammad Al-Fatih sudah menguasai 6 bahasa dan
ahli strategi yang meminpin sebuah wilayah yang sangat luas pada masa
pemerintahan daulah Bani Utsmaniyah di Turky.
Serta
kalangan pemuda Islam lainnya seperti, Umar bin Abdul Azis, Usamah Bin Zaid, dan
Mush’hab Bin Umair, Atau Mahatma Gandhi yang muncul sebagai tokoh politik muda
di India yang merupakan anti kolonialis.
Dengan
realitas pemuda masa kini yang banyak tergerus oleh zaman sebagai akibat dari
pengaruh hedonisme dan apatisme sebagai produk barat yang
meluluh-lantakkan gairah prestasi, imajinasi serta partisipasi dalam kehidupan
kemasyarakatan, berbangsa dan bernegara, pemuda jualah yang harus menjawab
tantangan sebagai pembawa tongkat estafet peradaban ini kedepan agar tidak
tergilas oleh zaman.
Jangankan
berani mengakhiri kesendirian diri dengan cara mempersunting calon istri,
berani menaklukkan diri sendiri saja belum berani. Keluar dari zona nyaman
untuk memantaskan diri saja belum berani. Bergerak mencari jalan untuk
mensejahterakan diri saja belum mulai tuh.. bagaimana mau membahagiakan orang
sekitar? atau membahagiakan anak orang yang telah dipersunting?
Akhir
zaman adalah sebuah kepastian, namun jadikan itu sebuah motivasi untuk bangkit
dan keluar dari zona nyaman. Ubah segala hal yang mengindikasikan kepada
berbagai bentuk kesia-siaan. Melangkah terus kedepan, biar Allah yang
menentukan sesuai dengan apa yang Dia takdirkan.
Sudah
saatnya ubah kebiasaan buruk dari sekarang!
Pastikan
kita sudah punya perencanaan (target) di tahun 2017 ini yang akan kita wujudkan sebagai
bentuk implementasi “resolusi pemuda” di tahun yang baru.
Wahai sekalian kita,
setiap kita adalah pemimpin masa depan. Maka sudah kewajiban kita sebagai
pemuda untuk mempersiapkannya sejak kini. Minimal kita sudah mampu memimpin
diri kita sendiri untuk lebih disiplin, menjadi manusia yang bermoral dan
berakhlak, serta punya visi-misi kedepan. Dan pastinya menjadi pemimpin dalam
keluarga kelak. Semoga segera dipertemukan dengan dambaan yang siap bersama
dalam satu perjuangan, saat ikrar suci yang sakral diucapkan.
Berjuanglah
para single’Lillah (istilah kang Abay) ^_^
Manado, 4 Januari 2017
Inspirasi bacaan :
- "Kebangkitan kembali pemuda Indoensia" (Hamengku Buwono X)
- IG : Kangabay_
- dll
- dll.. :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar