Kamis, 05 Januari 2017

RESOLUSI 2017

Pena Telah Diangkat dan Lembaran Telah Kering

Dalam hening ketika alam pikir sudah merasakan keadaan dimana terlepas dari hiruk pikuk dunia yang senantiasa menuntut teratasi, akankah kita berani untuk sekedar mengemukakan sebuah pertanyaan atau beberapa pertanyaan yang kira-kira seperti ini : Akankah saya pantas untuk berkutat dengan serangkaian episode kedepan dengan tidak memantaskan diri? Sudahkah saya membahagiakan orang-orang di sekitar (orang tua dan sanak saudara)? Atau.. yang sedikit dramatis.. sudahkan saya pantas mengakhiri kesendirian ini?

Sekilas pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin terkesan mudah dijawab. Tapi dengan realitas yang ada, pertanyaan-pertanyaan seperti ini kebanyakan dijawab simpel dengan mengaktualisasikannya dalam bentuk bunga tidur (alias mimpi) dan bergegas menuju alam bawah sadar.

Tidakkah kita merasa ada yang ganjil?

Banyak dari kalangan kaum muda dengan gaya masa kini (hedon), yang cenderung mengaplikasikannya dengan banyak bersantai ria, atau sekedar meregangkan otot yang lelah setelah seharian menjejaki etalase kapitalis, dengan ber-pura-pura memejamkan mata hingga kemudian hilang ditutupi ngorok yang berirama merdu (di atas pulau kapuk).

Bukankah kaum muda yang apabila ditelaah jauh kebelakang dengan jejak historisnya yang mengangkasa, selalu muncul sebagai pelopor untuk mengobarkan semangat perjuangan, yang mencirikan pemuda sebagai pilar pengubah keresahan menjadi awal dari sebuah perubahan?

Sejauh mana kita meninjau fenomena ini, mari kita “introspeksi diri”, mari kita ulas, mari kita kritisi, dan mari kita dekonstruksi hingga ke bagian terdalam yang paling radikal. Dalam hal ini, kita renungi dan timbang kembali sejauh mana kita mengklaim diri kita sebagai pemuda, yang sebetulnya tidak bisa hanya dibuktikan dengan kacamata biologis, melainkan juga dari sudut pandang psikologis sebagai sebuah komparasi dialogis.

Sejarah telah banyak memberikan bukti-bukti otentik tentang bagaimana ruh pemuda sebagai agent of change menjadi katalisator dan memberikan banyak pengaruh positif terhadap masyarakat dan peradaban. Namun, torehan prestasi intelek muda dibuktikan tidak hanya di ranah kancah nasional Indonesia saja, melainkan juga di kancah Internasional.

Kita bisa melihat bagaimana perjuangan tanpa batas pra-kemerdekaan perlawanan terhadap dominasi kolonisasi bangsa asing, oleh Budi Oetomo yang digagas tokoh-tokoh sentral seperti dr. Sutomo dan dr. Wahidin Sudirohusodo, serta Guru Bangsa HOS Tjokroaminoto, yang merupakan pendiri Sarekat Islam, adalah para pemuda pada zamannya. Mereka adalah konseptor sekaligus sebagai aktor dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Kita juga bisa melihat sang proklamator kemerdekaan RI, Bung Karno dan Bung Hatta sudah menjadi pemimpin Negara pada usia muda.

Bahkan pada usia yang begitu muda yakni umur antara 21 atau 22 tahun Sultan Mehmed II atau juga di kenal sebagai Sultan Muhammad Al-Fatih sudah menguasai 6 bahasa dan ahli strategi yang meminpin sebuah wilayah yang sangat luas pada masa pemerintahan daulah Bani Utsmaniyah di Turky.

Serta kalangan pemuda Islam lainnya seperti, Umar bin Abdul Azis, Usamah Bin Zaid, dan Mush’hab Bin Umair, Atau Mahatma Gandhi yang muncul sebagai tokoh politik muda di India yang merupakan anti kolonialis. 

Dengan realitas pemuda masa kini yang banyak tergerus oleh zaman sebagai akibat dari pengaruh hedonisme dan apatisme sebagai produk barat yang meluluh-lantakkan gairah prestasi, imajinasi serta partisipasi dalam kehidupan kemasyarakatan, berbangsa dan bernegara, pemuda jualah yang harus menjawab tantangan sebagai pembawa tongkat estafet peradaban ini kedepan agar tidak tergilas oleh zaman.

Jangankan berani mengakhiri kesendirian diri dengan cara mempersunting calon istri, berani menaklukkan diri sendiri saja belum berani. Keluar dari zona nyaman untuk memantaskan diri saja belum berani. Bergerak mencari jalan untuk mensejahterakan diri saja belum mulai tuh.. bagaimana mau membahagiakan orang sekitar? atau membahagiakan anak orang yang telah dipersunting?

Akhir zaman adalah sebuah kepastian, namun jadikan itu sebuah motivasi untuk bangkit dan keluar dari zona nyaman. Ubah segala hal yang mengindikasikan kepada berbagai bentuk kesia-siaan. Melangkah terus kedepan, biar Allah yang menentukan sesuai dengan apa yang Dia takdirkan.

Sudah saatnya ubah kebiasaan buruk dari sekarang!

Pastikan kita sudah punya perencanaan (target) di tahun 2017 ini yang akan kita wujudkan sebagai bentuk implementasi “resolusi pemuda” di tahun yang baru.

Wahai sekalian kita, setiap kita adalah pemimpin masa depan. Maka sudah kewajiban kita sebagai pemuda untuk mempersiapkannya sejak kini. Minimal kita sudah mampu memimpin diri kita sendiri untuk lebih disiplin, menjadi manusia yang bermoral dan berakhlak, serta punya visi-misi kedepan. Dan pastinya menjadi pemimpin dalam keluarga kelak. Semoga segera dipertemukan dengan dambaan yang siap bersama dalam satu perjuangan, saat ikrar suci yang sakral diucapkan.

Berjuanglah para single’Lillah (istilah kang Abay) ^_^

Manado, 4 Januari 2017

Inspirasi bacaan :
- "Kebangkitan kembali pemuda Indoensia" (Hamengku Buwono X)
- IG : Kangabay_
- dll
- dll.. :D