Keresahan awal dari perubahan
Langsung saja kawan, tanpa
pembuka Panjang-Lebar. Karena sesungguhnya panjang dan lebar hanya akan
menghasilkan LUAS dalam
perhitungan luas pada ilmu matematika
^_^
Seperti
halnya perjalanan lainnya, selalu saja ada tanya dalam menjalani sebuah proses.
Kira-kira dalam setiap dinamika beberapa pertanyaan ini muncul pada benak yang
gundah gulana.
Mereka takut..? Ya.. mereka
takut..! Mereka resah..? ya.. perasaan yang sama..!
Namun,
betapapun itu sebuah kesakitan, tetaplah bertahan kawan. Tendensi dari transisi
ini hanyalah euphoria
dari sebuah kemajuan. Bersabarlah kawan, jangan tergesa-gesa atau menjadi
penganut paranoid dalam menyikapi keadaan ini.
Sikapi
ini dengan dewasa kawan, sesungguhnya ini adalah proses dan akan dikenang
menjadi sebuah sejarah.
Bukankah
engkau sudah begitu banyak belajar dari sejarah yang telah digariskan oleh para
pendahulu tentang bagaimana berjuang dan bangkit dari keterpurukan? Tidakkah
engkau mengerti dari buku-buku yang menghiasi isi kepalamu bahwa, setiap masa
selalu ada yang namanya fluktuasi dalam setiap roda peradaban?
Bersabarlah
kawan!!! ^_^
Setiap
masa selalu ada aktor, dan setiap aktor yang melakoni perannya selalu punya
cara sendiri dalam mengekspresikan jalannya sebuah cerita.
Bersabarlah
kawan!!!
Sesungguhnya
ini hanyalah sebuah proses. Tidak perlu begitu idealis hingga kau banyak
protes. Tidakkah kau berpikir kawan, dengan cacian dan makian itu sungguh
menyakitkan?
Bersabarlah
kawan!!!
Jangan
biarkan mereka yang ada disampingmu, berdiri ber-shaf-shaf denganmu., menjadi
jauh atau lenyap dari tatapanmu oleh hanya karena egosentrismu atau egosentris
ideologimu yang lemah akan intuisi.
Jadilah
kuat kawan!!!
Lindungi
mereka yang butuh perhatianmu. Lapangkanlah rasa cinta di dadamu. Karena itu
yang dibutuhkan. Yaitu sebuah kebijakan yang menghangatkan.
Ingatlah
kawan!!!
Masa
transisi hanya akan berimplikasi pada 2 hal, yakni melanjutkan perjuangan, atau
berhenti dan mati dalam gilasan karena keegoisan.
Sadarlah
kawan!!!
Mereka
bukan patung atau pohon mati yang ditunggangi benalu sehingga mereka terlihat
kaku. Mereka juga termasuk barisan para pemikir yang sudah berjuang mencari
cara bagaimana menumbuhkan rasa. Rasa yang dulu ada namun hilang ditelan masa.
Sungguh,
ini bukanlah salah mereka kawan. Tahukan engkau kawan, selalu ada yang namanya
hukum kausalitas
(sebab-akibat).
Tidakkah
engkau mengevaluasi apa yang salah kemarin sehingga berimplikasi pada hari ini?
Sadarkah
engkau kawan bahwa ini hanyalah klimaks dari sejarah kemarin yang sudah kita
lalui?
Sudahkah
kau mengkajinya kawan?
Sudahkah
engkau tanyakan kepada mereka, apa yang mereka rasakan?
Sudahkah
kau menyudahi kesimpulanmu yang literal itu?
Sudahkah
engkau menyadari dirimu yang hanya menjadi penonton dan berkomentar pedas
ketika sang aktor memainkan peran yang tidak kau mengerti apa makna di dibalik
cerita yang sedang ia perankan? Kau memang tidak mau tau apa yang sudah mereka
perbuat! Sungguh kau hanya ingin tau kesalahan yang mereka lakukan. Kau lupa
bahwa mereka hanyalah kumpulan hamba selayaknya manusia biasa yang tak pernah
luput dari salah dan dosa.
Mencari-cari
kesalahan yang mereka perbuat, kemudian memperbesar-besarkannya biar seisi alam
ini tau hanya dosa yang ada di wajah mereka, dan surga yang katanya ada di
wajahmu. Sadarlah kawan, marilah sama-sama sadar!
Tenaglah
kawan, kemarin barulah awal dari akan begitu banyak langkah kedepan.
Bersyukurlah kawan, mereka yang kau ragukan masih bertahan ditengah rasa sakit
yang begitu memilukan. Karena kau tau kawan, apa yang membuat mereka tegar
bertahan? Mereka sadar bahwa sesungguhnya perjuangan ini bukan
untuk individu yang pandai memuntahkan keegoisan, melainkan untuk kebersamaan
dalam meraih kemenangan, bangkit dari keterpurukan!!
Maafkan
kami kawan. Sedari awal sudah mengecewakanmu. Maafkan kami kawan, kami
melakonkan tidak sesuai dengan apa yang kau ekspektasikan. Bimbinglah kami
kawan. Kiranya kau dapat membimbing kami yang lemah ini kawan.
Jangan
caci kami, jangan hina kami, jangan kecilkan semangat kami yang di dalamnya
masih ada walau hanya sebesar biji zarrah. Jangan
buang kami kawan, jangan biarkan kami angkat kaki dari jalan panjang yang sudah
kami lalui ini.
Akhirnya,
beribu maaf untukmu kawan. Tolong jangan biarkan kami menjadi pemenang
melarikan diri dari kenyataan, namun giring kami menjadi pemenang dari
orang-orang yang hobinya lari dari kenyataan.
Untukmu
kawan, kau hanyalah bayang-bayang semu ^_^
Edisi revisi, 27 desember 2016.
Sebelumnya
sudah pernah di posting pada fb : Rhama Rizky Ningalo, dengan gaya bahasa yang
sedikit berbeda.
Sumber Gambar :
http://global.liputan6.com/read/2181257/7-ilusi-optik-manipulasi-foto-yang-bisa-kacaukan-pikiran

Tidak ada komentar:
Posting Komentar