Rabu, 28 Desember 2016

ILUSI TRANSISI?



Keresahan awal dari perubahan
 
Langsung saja kawan, tanpa pembuka Panjang-Lebar. Karena sesungguhnya panjang dan lebar hanya akan menghasilkan LUAS dalam perhitungan luas pada ilmu matematika  ^_^

Seperti halnya perjalanan lainnya, selalu saja ada tanya dalam menjalani sebuah proses. Kira-kira dalam setiap dinamika beberapa pertanyaan ini muncul pada benak yang gundah gulana.

Mereka takut..? Ya.. mereka takut..! Mereka resah..? ya.. perasaan yang sama..!

Namun, betapapun itu sebuah kesakitan, tetaplah bertahan kawan. Tendensi dari transisi ini hanyalah euphoria dari sebuah kemajuan. Bersabarlah kawan, jangan tergesa-gesa atau menjadi penganut paranoid dalam menyikapi keadaan ini. 

Sikapi ini dengan dewasa kawan, sesungguhnya ini adalah proses dan akan dikenang menjadi sebuah sejarah.

Bukankah engkau sudah begitu banyak belajar dari sejarah yang telah digariskan oleh para pendahulu tentang bagaimana berjuang dan bangkit dari keterpurukan? Tidakkah engkau mengerti dari buku-buku yang menghiasi isi kepalamu bahwa, setiap masa selalu ada yang namanya fluktuasi dalam setiap roda peradaban?

Bersabarlah kawan!!! ^_^
Setiap masa selalu ada aktor, dan setiap aktor yang melakoni perannya selalu punya cara sendiri dalam mengekspresikan jalannya sebuah cerita.

Bersabarlah kawan!!!
Sesungguhnya ini hanyalah sebuah proses. Tidak perlu begitu idealis hingga kau banyak protes. Tidakkah kau berpikir kawan, dengan cacian dan makian itu sungguh menyakitkan?

Bersabarlah kawan!!!
Jangan biarkan mereka yang ada disampingmu, berdiri ber-shaf-shaf denganmu., menjadi jauh atau lenyap dari tatapanmu oleh hanya karena egosentrismu atau egosentris ideologimu yang lemah akan intuisi.

Jadilah kuat kawan!!!
Lindungi mereka yang butuh perhatianmu. Lapangkanlah rasa cinta di dadamu. Karena itu yang dibutuhkan. Yaitu sebuah kebijakan yang menghangatkan.

Ingatlah kawan!!!
Masa transisi hanya akan berimplikasi pada 2 hal, yakni melanjutkan perjuangan, atau berhenti dan mati dalam gilasan karena keegoisan.

Sadarlah kawan!!!
Mereka bukan patung atau pohon mati yang ditunggangi benalu sehingga mereka terlihat kaku. Mereka juga termasuk barisan para pemikir yang sudah berjuang mencari cara bagaimana menumbuhkan rasa. Rasa yang dulu ada namun hilang ditelan masa.

Sungguh, ini bukanlah salah mereka kawan. Tahukan engkau kawan, selalu ada yang namanya hukum kausalitas (sebab-akibat).

Tidakkah engkau mengevaluasi apa yang salah kemarin sehingga berimplikasi pada hari ini?

Sadarkah engkau kawan bahwa ini hanyalah klimaks dari sejarah kemarin yang sudah kita lalui?

Sudahkah kau mengkajinya kawan?

Sudahkah engkau tanyakan kepada mereka, apa yang mereka rasakan?

Sudahkah kau menyudahi kesimpulanmu yang literal itu?

Sudahkah engkau menyadari dirimu yang hanya menjadi penonton dan berkomentar pedas ketika sang aktor memainkan peran yang tidak kau mengerti apa makna di dibalik cerita yang sedang ia perankan? Kau memang tidak mau tau apa yang sudah mereka perbuat! Sungguh kau hanya ingin tau kesalahan yang mereka lakukan. Kau lupa bahwa mereka hanyalah kumpulan hamba selayaknya manusia biasa yang tak pernah luput dari salah dan dosa.

Mencari-cari kesalahan yang mereka perbuat, kemudian memperbesar-besarkannya biar seisi alam ini tau hanya dosa yang ada di wajah mereka, dan surga yang katanya ada di wajahmu. Sadarlah kawan, marilah sama-sama sadar!

Tenaglah kawan, kemarin barulah awal dari akan begitu banyak langkah kedepan. Bersyukurlah kawan, mereka yang kau ragukan masih bertahan ditengah rasa sakit yang begitu memilukan. Karena kau tau kawan, apa yang membuat mereka tegar bertahan? Mereka sadar bahwa sesungguhnya perjuangan ini bukan untuk individu yang pandai memuntahkan keegoisan, melainkan untuk kebersamaan dalam meraih kemenangan, bangkit dari keterpurukan!!

Maafkan kami kawan. Sedari awal sudah mengecewakanmu. Maafkan kami kawan, kami melakonkan tidak sesuai dengan apa yang kau ekspektasikan. Bimbinglah kami kawan. Kiranya kau dapat membimbing kami yang lemah ini kawan.

Jangan caci kami, jangan hina kami, jangan kecilkan semangat kami yang di dalamnya masih ada walau hanya sebesar biji zarrah. Jangan buang kami kawan, jangan biarkan kami angkat kaki dari jalan panjang yang sudah kami lalui ini.

Akhirnya, beribu maaf untukmu kawan. Tolong jangan biarkan kami menjadi pemenang melarikan diri dari kenyataan, namun giring kami menjadi pemenang dari orang-orang yang hobinya lari dari kenyataan.

Untukmu kawan, kau hanyalah bayang-bayang semu ^_^
 
Edisi revisi, 27 desember 2016.
Sebelumnya sudah pernah di posting pada fb : Rhama Rizky Ningalo, dengan gaya bahasa yang sedikit berbeda. 

Sumber Gambar :

http://global.liputan6.com/read/2181257/7-ilusi-optik-manipulasi-foto-yang-bisa-kacaukan-pikiran
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar