“Nelangsa, Akhir Narasi”.
Apa kabar kata manis yang pahit pekat saat disesapi?
Apa kabar lisan hangat yang hanya sekedar pelipur lara?
Apa kabar ikral sakral yang hanya menjadi bualan atas dasar kenyamanan?
Manakala hati dan pikiran menolak untuk sepakat, ketika hati terlanjur harap, termenung, tak kuasa, tak percaya. Saat itu, mengenang adalah sebuah kesenangan sesaat ditemani guyuran haru biru. Hangat, manis, indah hanya sekedar terucap. Terucap dan pasrah tak terarah, mudah berucap tak tercerah. Semua harapan menjelma jadi kehampaan. Hampa, sepi, menghilang, tak temu cinta.
Yang ada, hanya derik suara-suara binatang malam di tengah kesunyian dan kebuntuan rasio. Di malam itu, kabut tipis pun perlahan mulai menghampiri suasana sepi di malam sendu nan dingin.
Seakan alam raya ingin mengajakku berdiskusi dan menggiring jiwa dan raga ini hanyut dalam romantisme tunggal yang semakin tak masuk akal. Dingin tajam pun mulai melukai hangatnya suhu tubuh dibeberapa waktu yang telah berlalu.
Terus, lagi dan lagi alam coba menghiburku dengan caranya sendiri. Gumamku, tak berdaya aku dimalam yang pekat ini. Imaji telah terlalu jauh melangkah, hingga jasad yang sepi ini makin sunyi tanpa sadar.
Namun semangat ruh-ku masih berapi-api rupanya. Masih semangat ia mengajak jasad kembali berdiri dan berdialektika. Dengan seiapa saja, entah alam raya atau sesama manusia.
Tersadar, ini masalah jiwa yang serba abstrak “ternyata”. Masalah “hati” singkatnya. Masa lampau, apa guna berlarut dalam kesedihan yang fana?
Sayup-sayup masa lalu yang telah menjadi lampau tak dapat mengubah keadaan. Kisah klasik jadikan guru paling berharga. Sendu adalah pewarna kehidupan, bahagia yang tertunda.
Jangan kembali masa lalu, “pintaku”.!
Kita telah berada di babak yang berbeda. Ikhlas adalah bahasa tulus qalbu dan realitas rasionalitas, karena kita “manusia”.!
@RRNingalo
(Bintauna, 2017)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar